Analisis Pasal 185 KHI

Pasal 185 KHI

(1) Ahli waris yang meninggal terlebih dahulu dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173

(2) Bagian dari ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti

1.    Apakah penggantian ahli waris bersifat tentative atau imperative?

Berdasarkan pasal 171 huruf c KHI, ahli waris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan agama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Dapat terjadi kemungkinan kondisi dimana ahli waris meinggal terlebih dahulu daripada pewaris. Dalam kondisi tersebut, bagian ahli waris tersebut beralih menjadi hak dari ahli waris tersebut. Hal tersebut disebut dengan penggatian ahli waris dan ahli waris yang menggatikan disebut ahli waris pengganti. Ahli waris pengganti adalah orang yang sejak semula bukan ahli waris tetapi karena kondisi tertentu dan pertimbangan tertentu mungkin menerima warisan namun dalam status bukan sebagai ahli waris.

Berdasarakan rumusan dalam pasal 185 ayat (1) KHI, terdapat kata ‘dapat diganti’, hal tersebut menyimpulkan bahwa pergantian ahli waris dapat terjadi dan dapat juga tidak dapat terjadi ahli waris pengganti. Pasal tersebut bersifat tentative atau fakultatif. Pergantian ahli waris dapat tidak dapat terjadi jika memenuhi ketentuan pasal 173 KHI, yakini seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah menjadi kekuatan hokum tetap, dihukum karena:

a.   Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris

b.  Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

2.    Apakah jangkauan garis hokum penggantian ahli waris hanya berlaku untuk ahli waris garis lurus ke bawah atau juga untuk ahli waris garis menyamping?

    Berdasarkan rumusan ketentuan pasal 185 ayat (1) KHI, disimpulkan bahwa penggatian ahli waris dapat terjadi terhadap garis lurus ke bawah maupun garis lurus ke samping. Hal ini juga dipertegas bahwa dalam Kompilasi Hukum Islam tidak dikenalnya dzawil ahram. Ahli waris dzawil ahram adalah ahli waris yang mempunyai hubungan family dengan pewaris tetapi tidak termasuk golongan ahli waris dzawil furudl dan asabah. Dengan tidak dikenalnya ahli waris dzawil ahram, member petunjuk bahwa semua saudara/keluarga pewaris dapat menjadi ahli waris sepanjang tidak tertutup oleh ahli waris yang lebih utama. Oleh karena itu, anak-anak saudara laki-laki maupun anak-anak saudara perempuan baik laki-laki maupun perempuan serta anak-anak paman baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi ahli waris pengganti.

3.    Apakah ahli waris pengganti menduduki kedudukan orang tuanya secara mutlak atau relative?

     Berdasarkan pasal 185 ayat (2) KHI, dapat disimpulkan penggantian ahli waris bersifat relative, artinya walaupun kedudukannya sebagai ahli waris pengganti, ahli waris pengganti tidak dapat mendapatkan bagian sebesar bagian yang diterima oleh ahli waris yang digantikannya dalam keadaan jika bagian yang diterima oleh ahli waris pengganti melebihi melebihi bagian dari ahli waris yang sederajat dengan ahli waris yang digantikan. Jika bagian yang diterima oleh ahli waris pengganti besarnya sama maupun lebih kecil tidaklah menjadi permasalahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s