Sekilas tentang Asas Hukum

Ciri-ciri atau Sifat Asas Hukum

            Banyak terdapat pengertian mengenai asas hokum dari pendapat para ahli, diantaranya[1]:

1.      Bellefroid

Asas hokum adalah norma dasar yang dijabarkan dari hokum postif dan yang oleh ilmu hokum tidak dianggap bersal dari aturan-aturan yang lebih umum. Asas hokum umum itu merupakan pengendapan hokum postif dalam suatu masyarakat.

2.      Van Eikema Hommes

Asas hokum tidak boleh dianggap sebagai norma hokum konkrit akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk-petunjuk bagi hokum yang berlaku. Dengan kata lain asas hokum merupakan dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hokum positif.

3.      Paul Scholten

Asas hokum adalah kecebderungan-kecenderungan yang disyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hokum, merupakan sifat-sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan yang umum itu, tetapi yang tidak boleh tidak harus ada.

4.      Van Der Valden

Asas hokum merupakan tipe putusan tertentu yang dapat digunakan sebagi tolok ukur untuk menilai situasi atau digunakan sebagai pedoman berperilaku.

5.      Sudikno Mertokusumo

Asas hokum bukanlah peraturan hokum tetapi pikiran dasar yang umum sifatnya atau latar belakang dari peraturan konkrit yang terdapat dalam dan di belakang setiap system hokum yang terjelma dalam peraturan perundang-undangan dan putusan hakim sebagai hokum positif dan dapat ditemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan konkrit tersebut.

            Berdasarkan pengertian-pengertian mengenai asas hokum maka dapat disimpulkan mengenai cirri-ciri hokum, yakni[2]:

1.      Abstrak atau tidak tersurat

2.      Bersifat umum, karena dapat diletakkan lapangan hokum manapun

3.      Cita-cita dan suatu anggapan

4.      Bersifat dinamis, karena isinya tidak bersifat permanen

5.      Tidak mengenal hierarki

Asas hokum pada umumnya bersifat dinamis, berkembang mengikuti kaedah hukumnya. Asas hokum  dapat dibagi menjadi dua, yakni:

1.      Bersifat umum

Asas hokum itu sifatnya umum, tidak hanya berlaku bagi satu peristiwa khusus tertentu saja. Oleh karena bersifat umum, maka asas hokum itu membuka kemungkinan penyimpangan-penyimpangan atau pengecualian-pengecualian. Karena penyimpangan-penyimpangan atau pengecualian-pengecualian itulah maka ketenytuan umumnya mempunyai kedudukan yang kuat dibenarkan. Dengan adanya penyimpangan atau pengecualian itu maka sisten hukumnya luwes, tidak kaku[3]

2.      Bersifat khusus

Berfungsi dalam bidang yang lebih sempit seperti dalam bidang hokum perdata, hokum pidana dan sebagainya, yang sering merupakan penjabarn dari asas hokum.

Fungsi Asas Hukum                                        

Fungsi asas hokum dalam hokum menurut Klanderman bersifat mengesahkan dan mempunyai pengaruh yang normative dan mengikat para pihak. Bersifat mengesahkan karena mendasarkan eksistensinya pada rumusan oleh pembentuk undang-undang dan hakim. Akan tetapi di samping itu fungsi asas hokum dalam hokum adalah melengkapi system hokum: membuat system hokum luwes.

Asas Hukum Universal

Sekalipun pada umunya asas hokum itu bersifat dinamis, namun menurut Scholten ada asas hokum yang bersifat universal yang berlaku kapan saja dan dimana saja, tdak terpengaruh waktu dan tempat, yakni[4]:

1.      Asas kepribadian

Asas kepribadian itu menunjukkan pada pengakuan kepribadian manusia, bahwa manusia itu adalah subjek hokum, penyandang hak dan kewajiban. Tata hokum bertitik tolak pada penghormatan dan perlindungan manusia. Manusia ingin bebas memperjuangankan hidupnya. Asas hokum ini pada dasarnya terdapat di seluruh dunia, walaupun  bentuknya bervariasi satu sama lain.

2.      Asas persekutuan

Dalam asas ini yang ingin dikehendaki adalah suatu kehidupan bersama yang tertib, aman dan damai, persatuan dan kesatuan serta cinta kasih. Manusia ingin hidup bermasyarakat. Asas hokum ini terdapat di seluruh dunia.

3.      Asas kesamaan

Asas ini menghendaki setiap orang dianggap sama dalam hokum. Yang dianggap adail ialah apabila setiap orang memperoleh hak yang sama, setiap orang minta diperlakukan sama, tidak dibeda-bedakan (equality before the law). Perkara yang sama harus diputus sama. Keadilan merupakan realisasi asas kesamaan ini. Asas hokum ini dikenal sepanjang umat dimana-mana. Di dalam masyarakat yang primitifpun sejak dulu dimana-mana asas hokum ini kita jumpai.

4.      Asas kewibawaan

Asas hokum ini memperkirakan atau mengasumsikan adanya ketidaksamaan. Di dalam masyarakat harus ada seseorang yang memimpin, menertibkan masyarakat, yang mempunyai wibawa dan kedudukan yang lain daripada kebanyakan orang.

5.      Asas pemisahan antara baik dan buruk

Perbedaan Teori dengan Asas Hukum

Untuk melihat perbedaan antara teori hokum dengan asas hokum maka dapat dilakukan dengan cara melihat/membandingkan pengertian dari teori hokum maupun asas hokum tersebut. Menurut Friedman, teori hokum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari esensi hokum yang berkaitan antara filsafat hokum di satu sisi dan teori politik di sisi lain. disiplin teori hukum tidak mendapatkan tempat sebagai ilmu yang mandiri, maka disiplin teori hukum harus mendapatkan tempat di dalam disiplin ilmu hukum secara mandiri; sedangkan asas hokum menurut Bellefroid adalah norma dasar yang dijabarkan dari hokum postif dan yang oleh ilmu hokum tidak dianggap bersal dari aturan-aturan yang lebih umum. Asas hokum umum itu merupakan pengendapan hokum postif dalam suatu masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa asas hokum merupakan norma dasar terbentuknya suatu peraturan hokum yang dimana asas hokum tersebut terjabarkan dalam peraturan hokum tersebut; sedangkan teori hokum merupakan suatu disiplin ilmu pengetahuan yang mempelajari esensi hokum.  Asas hokum terdapat di dalam teori hokum karena dalam teori hokum selain mempelajari tentang sejarah hokum, filsafat hokum juga mempelajari tentang asas hokum.


[1] Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum: Sebuah Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2007, hlm. 5

[2] Eddy O.S Hiareij, Hand Out  Mata Kuliah Teori Hukum Semester Ganjil 2010/2011, Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

[3] Opcit, Sudikno Mertokusumo, hlm. 8

[4] Ibid, hlm. 9-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s