6 Anni da Storia Lazio Indonesia Region Jogjakarta

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat digandrungi masyarakat Indonesia bahkan juga di seluruh dunia. Olahraga yang berisi 23 orang di lapangan yang masing-masing tim diisi 11 orang plus wasit yang saling berlari-larian, bekerjar-kejaran merebutkan benda kecil yang berbentuk bulat yang diberi nama bola. Terkadang hal tersebut dijadikan semacam candaan yang membuat tersenyum geli, “Kok ada ya 22 orang cuma buat rebutan 1 bola, ga ada kerjaan lain apa ya.. Kenapa ga dikasih bola aja setiap orangnya..”, tapi bagi orang yang menggandrungi bola (mungkin termasuk saya) ada sensasi yang  berbeda untuk melihat pertandingan sepakbola atapun ikut bermain sepakbola.

Nah, yang namanya olahraga tidak bisa dilepaskan dari pemain (ataupun klub) dan penggemar/fans/fans klub ya apapun itu namanya. Dengan semakin banyaknya tayangan liga-liga luar negeri (Eropa) yang ditayangkan di Indonesia baik lewat stasiun televisi lokal maupun berbayar serta semakin banyaknya tempat-tempat yang menyediakan tempat untuk mengadakan kegiatan nonton bareng secara tidak langsung berdampak bagi berkembangnya fans club.

Nah, seperti halnya Lazio Indonesia Region Jogjakarta yang berdiri sejak 1 November 2008 hingga saat ini. Mengenai bagaimana sejarah bedirinya atau bahasa sederhananya cerita bagaimana asal mula Lazio Indonesia Region Jogjakarta bisa dibaca di https://adityoariwibowo.wordpress.com/2014/02/20/sejarah-laziale-jogjakarta/#more-1157. Jika judul tulisan ini diartikan secara sedehana memiliki artian 6 tahu sejarah Lazio Indonesia Region Jogjakarta. Yaps, tidak terasa tahun ini (2014) tepat pada tanggal 1 November, Lazio Indonesia Region Jogjakarta berulang tahun yang ke-6. Memang Lazio Indonesia region Jogjakarta ini umurnya baru ‘seumur jagung’ dengan kata lain masih (sangat) muda untuk ukuran sebuah fans club. Jika dibading dengan umur seorang anak anak manusia pun dapat dikatakan 11-12 alias tidak jauh berbeda, masih kecil.

Jika dilihat dari umur seorang anak manusia, umur 6 tahun masih dikatakan anak-anak yang masih mengeyam bangku sekolah dan masih perlu banyak pembelajaran agar lebih dewasa ke depannya begitu pula halnya dengan Lazio Indoensia Region Jogjakarta masih ada hal-hal yang perlu dibenahi, dipelajari agar menjadi ‘dewasa’ ke depanya, lebih berkembang lagi ke depannya. Memang dari segi jumlah, anggota Lazio Indonesia Region Jogjakarta tidak ‘se-wah’ (sebanyak) fans club besar yang lain tapi kalau dilihat dari segi kualitas tidak kalah jauh. Dari data yang saya dapatkan dari Ketua Region saat ini Eka Satria (@eclazio) jumalah anggota yang terdata sekitar 75 orang dan itu pun termasuk yang sudah ‘hengkang’ dari Jogja, mungkin jika semua Laziali (fans Lazio) di Jogja terdata bisa lebih dari jumlah tersebut. Continue reading

Advertisements

Bukan Sekedar Jalan-Jalan Biasa

10383493_10203911967023913_7555149350116397703_n

Akhir bulan yang lalu (Mei) saya dan beberapa teman Laziali Jogja mengadakan perjalanan cukup jauh sesalah satu kota di daerah Jawa Timu, Kota Batu Malang. Sudah cukup lama rencana ini diobrolkan tetapi baru fix jadi menjelang hari keberangkatan yang sudah direncanakan sejak awal.
Kami ke Kota Batu, Malang bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa tetapi juga untuk berpartisipasi di event besar komunitas fans club, LAZIO INDONESIA yakni GATHERING NASIONAL. Awalnya kami ragu, masih belum ada kepastian untuk ikut berpartisipasi tetapi mengingat event tersebut event besar dan penting, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat.
Gathreing Nasional ini bukan hanya sekedar ajang kumpul-kumpul biasa, silaturahmi tetapi ajang untuk membawa komunitas ini ke arah yang lebih baik karena inti Gathering Nasional ini adalah pembahasan AD/ART dan pemilihan Presiden periode berikutnya. Dari awal, di media social komunitas sudah ramai dibincangkan mengenai event ini, beberapa ada yang menanyakan acara jalan-jalan ke daerah wisata sekitar tempat penyelenggaraan dengan (mungkin) melupakan inti dari event tersebut.
Kami (perwakilan Laziali Jogja) berangkat menuju Kota Batu, Malang Sabtu malam menggunakan satu mobil, berkendara dengan santai mengingat masih panjangnya waktu yang kami punya. Selama dalam perjalanan pun, selain obrolan santai dan bercanda, diselipkan obrolan (sedikit) serius mengenai event tersebut, membahas apa yang akan diwacanakan, dibahas ketika pembahasan AD/ART dan membahas mengenai calon-calon Presiden , siapa yang menurut kami cocok untuk mengkoordinir komunitas ini, yak arena ini bukan sekedar jalan-jalan biasa. Continue reading

Sejarah Laziale Jogjakarta

Sepak bola (dalam hal ini klub) dan fans/supporter itu hal yang tidak bisa dipisahkan, ada fans tentu ada klub yang disukai. Fans ini bukan hanya satu atau dua orang saja, lebih dari itu. Tak heran jika ada beberapa fans yang merasa ‘satu bendera’ (sama-sama menyukai klub yang sama) berkumpul membentuk sebuah komunitas (fans club). Fans cluleh klub ini tidak jarang diakui langsung oleh klub yang bersangkutan (official) yang tersebar di setiap negara atau bahkan setiap daerah di negara tersebut. Sebuah fans club (menurut saya) sudah atau belum diakui (official) bukanlah suatu masalah, yang terpenting bisa berkumpul dengan sesama fans.

Begitu pula dengan LAZIO, sebuah klub yang berkompetisi di Serie A Italia memiliki fans club di Indonesia dengan nama Lazio Indonesia. Lazio Indonesia ini berpusat di Jakarta dan memiliki beberapa regional, salah satunya Lazio Indonesia Region Jogjakarta. Sedikit flashback, saya bisa dibilang ikut ketika kopdar pertama (kopi darat). Kopdar pertama itu, sekaligus futsalan perdana dilaksanakan di Pelle Futsal, Babarsari. Ketika kopdar itu (berkas broatcast sms), saya belum mengenal siapapun dan yang datang baru sekitar belasan Laziale. Mengenai siapa inisiator pertama yang menggumpulkan Laziale di Jogja itu adalah seorang kawan, sebut saja namanya Mono. Yah, bisa dikatakan (lagi, menurut saya) kawan Mono merupakan foundingfather-nya Lazio Indonesia Region Jogjakarta. Soal kronologi terbentuknya Lazio Indonesia Region Jogjakarta, ini ada sedikit cerita langsung dari kawan Mono yang saya copas dari suatu link:

Continue reading